RAW Image : Format Gambar “Ajaib” Idola Para Fotografer

Febriana Maurizki Dewanti/ Juni 29, 2018/ Design Grafis, Fotografi

Aku yakin sebagian besar dari kalian sudah pernah mendengar kosakata ‘format RAW’. Dalam bahasa Inggris, raw berarti mentah. Lalu bagaimana dengan dunia fotografi? Ya sama saja. RAW dalam fotografi juga berarti mentah. Banyak yang mengira bahwa RAW dalam fotografi adalah sebuah singkatan. Kamu termasuk orang yang mengira begitu? Ehehe, you’re wrong  guys. Supaya makin paham, tentunya perlu sedikit pengetahuan dasar tentang bagaimana proses menghasilkan sebuah foto. Sebenarnya sistemnya sama saja sejak masa lalu hingga saat ini.

Menghasilkan foto itu memerlukan dua tahap, yaitu tahap memotret dan tahap memproses.

Di masa ketika kamera masih analog, setelah pemotretan maka negative film akan dibawa ke darkroom, alias kamar gelap, untuk diproses dan barulah dicetak di atas kertas. Nah di kamera digital, orang mengira bahwa bagian pencucian negative film itu sudah tidak dilakukan lagi. Nyatanya proses pencucian itu tetap dilakukan, hanya saja tak terlihat. Di mana dilakukannya? Di dalam kamera itu sendiri. Pada dasarnya, kamera digital memiliki prosesor. Bagian inilah yang menjadi darkroom-nya kamera digital.

Kembali lagi ke format RAW, format ini hadir untuk menggantikan negative filmnya kamera jaman old. Kamera akan menghasilkan sebuah file RAW yang biasanya memiliki ekstensi CR2 atau CRW (di Canon). Kemudian file RAW ini diproses, lebih tepatnya dikompresi, menjadi file gambar berformat JPEG. File JPEG inilah yang ditampilkan melalu monitor kamera.

Gambar 1. Alur pemrosesan RAW image

Intinya, RAW adalah sebuah file yang dihasilkan oleh kamera digital dan belum mengalami pemrosesan

Jika kita memutuskan untuk memilih format RAW, berarti kita memerintahkan kamera untuk langsung mengirim data mentah dari sensor ke memory card. Dan kalau kita memilih format JPEG, berarti kita memerintahkan kamera untuk memproses data dari sensor terlebih dahulu sebelum mengirim ke memory card.

Perlu diketahui bahwa RAW image tidak dapat dibuka di photo viewer apapun kecuali sudah diedit. Software yang memiliki plug-in untuk mengedit RAW image contohnya adalah Adobe Photoshop dan Lightroom. Pun juga untuk memunculkan plug-in ini kita harus memotret sesuai dengan kaidah RAW image terlebih dahulu. Plug-in tidak akan terbuka jika file yang diimport bukan file RAW.

 

  • Setting kamera DSLR untuk format RAW

Tertarik untuk menggunakan format RAW dalam memotret? Sayangnya tidak semua kamera memiliki format seperti ini. Biasanya hanya kamera DSLR dan kamera-kamera prosumer saja yang memiliki format RAW untuk pengambilan gambar.

Jika kamu menggunakan kamera DSLR, cara mengubah setting file menjadi RAW sangat mudah. Meskipun setiap jenis kamera memiliki fitur yang berbeda, namun biasanya untuk mengubah ke format RAW ini kita cukup masuk ke image setting dan ada setting image quality. Di sana kita bisa memilih format RAW.

Gambar 2. Setting format RAW pada kamera DSLR Canon

Gambar 3. Setting format RAW pada kamera DSLR Nikon

 

  • Beragam ekstensi file RAW

Masing-masing produsen kamera mengeluarkan kode untuk format RAW sendiri. Jadi file extention untuk format RAW bisa berbeda-beda tergantung jenis kamera. Coba lihat beberapa kode file RAW di bawah ini :

.ari (Arri_Alexa).mrw (Minolta, Konica Minolta)
.arw .srf .sr2 (Sony).nef .nrw (Nikon)
.bay (Casio).orf (Olympus)
.cri (Cintel).pef .ptx (Pentax)
.crw .cr2 (Canon).pxn (Logitech)
.cap .iiq .eip (Phase_One).R3D (RED Digital Cinema)
.dcs .dcr .drf .k25 .kdc (Kodak).raf (Fuji)
.dng (Adobe).RAW .rw2 (Panasonic)
.erf (Epson).RAW .rwl .dng (Leica)
.fff (Imacon/Hasselblad RAW).rwz (RAWzor)
.mef (Mamiya).srw (Samsung)
.mdc (Minolta, Agfa).x3f (Sigma)

Untuk melihat file extention, bisa pergunakan Windows Explorer di komputer Anda dan kemudian klik kanan pada file. Silakan lihat nama atau klik tab details.

Format RAW yang banyak diidolakan para fotografer ini tentu memiliki keuntungan dan kerugian dalam pemakaiannya. Yuk simak infonya di bawah ini.

 

  • Keuntungan

  1. White Balance mudah diedit

    Gambar 4. Perbandingan warm tone dan cool tone

    Sensor kamera kita tidak secanggih kemampuan mata manusia, sehingga terkadang sensor kamera salah dalam menentukan temperatur cahaya yang diterimanya. Dalam kasus ini, menggunakan format RAW adalah pilihan terbaik untuk menghindari foto yang kekuningan atau kebiruan. Ini cukup membantu saat kita memotret di kondisi dengan temperatur cahaya yang kompleks dan berubah-ubah, sehingga kita mudah melakukan koreksi saat editing di komputer.Membidik dengan format RAW akan memberikan kita keleluasaan untuk mengatur white balancenya kemudian. Mau menjadikannya cool tone bisa, warm tone bisa, sesuka kita. Tambah lagi, saat menggunakan format RAW, perubahan white balance tidak akan mengakibatkan efek posterisasi seperti saat mengedit white balance pada file JPEG.

  2. Kemampuan highlight recovery

    Gambar 5. Highlight recovery

    Pernah menangkap gambar awan yang super putih, padahal aslinya terlihat seperti gumpalan-gumpalan permen kapas? Ya itulah yang terjadi jika highlight di foto kita over. Biasa terjadi pada siang hari, overexposure mengakibatkan beberapa bagian foto jadi terlalu terang (washout) sehingga kehilangan detailnya. Dengan memotret menggunakan format RAW, kita bisa mengembalikan detail yang hilang.Sebuah pixel tersusun atas elemen/channel Red, Green dan Blue (RGB). Kadang saat kehilangan detail, dari ketiga elemen RGB tersebut, misal di channel Blue atau Green, masih tersimpan detail yang bisa dikembalikan. Cara gampang untuk mengembalikan detail yang hilang adalah dengan menurunkan highlightnya.

  3. Tak perlu takut dengan ISO tinggi
    Hal yang dihindari fotografer saat memotret di ISO tinggi tentunya adalah noise yang bertebaran di seluruh area foto. Ketika kita memotret dengan format RAW, noise tersebut akan lebih mudah ditekan dengan software editing, dan kualitasnya akan tetap terjaga. Dengan begitu kamu tentu bisa memotret tanpa harus takut dengan noise yang akan dihasilkan.
  4. Lebih leluasa dalam proses editing

    Gambar 6. Synchronize setting pada Photoshop

    Memotret dengan format RAW itu ibarat melukis dengan satu set cat dengan warna lengkap. Jadi lain halnya saat memotret dengan format JPEG yang ibaratnya cuma pakai 2 atau 3 warna. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin leluasa untuk berkreasi, bukan? Begitu juga dengan format RAW.Jika setelah direview ternyata banyak foto kita yang underexposure atau masalah-masalah lainnya, kita bisa melakukan proses synchronize pada semua foto tersebut dengan mudah melalui software editing Photoshop atau Lightroom, dan semua foto akan terkoreksi secara otomatis tingkat exposurenya.

  5. Diedit bagaimanapun, kualitas tetap tinggi
    Mau diubah ini-itunya seekstrim apapun, percayalah bahwa foto berformat RAW ketika diekspor ke JPEG kualitasnya masih tinggi. Nah beda halnya jika dari JPEG kemudian diedit blablabla lalu diekspor lagi, kualitasnya akan menurun. Seperti foto yang sudah dikompres lalu dikompres lagi, beberapa detail foto pasti hilang meski sedikit.
  6. Hasil foto super detail
    Kembali lagi mengingat proses pembentukan file RAW, foto tidak mengalami kompresi sama sekali. Maka kamera tak akan mengutak-atik brightness, contrast, white balance, apapun yang ada di foto tersebut. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi para fotografer yang suka berkreasi dengan karyanya untuk dapat bereksplorasi lebih leluasa lagi.
  7. Tak satupun data foto akan hilang
    File RAW akan selalu tersimpan sebagai file yang murni yang tidak tersentuh dan tidak berubah. Sama seperti kita menyimpan negative film pada era fotografi film di masa lalu, dengan menyimpan file RAW kita seperti menyimpan negative film dalam format digital. Dengan software seperti Photoshop dan Lightroom, saat kita mengedit sebuah foto dengan format RAW maka proses editing apapun akan disimpan sebagi informasi yang terpisah dengan foto aslinya, dengan begitu foto kita akan selalu murni.
  8. Sebagai bukti kepemilikan foto
    Bayangkan jika ada yang menggunakan foto kita tanpa izin dan mengakuinya sebagai hak milik, file RAW bisa menjadi senjata andalan, hahaha. Tunjukkan saja file RAW dari foto tersebut, maka kepemilikan foto tersebut tidak akan bisa diganggu gugat. Case closed, so simple.
  9. Digital negative – timeless file
    Karena file RAW selalu murni, kita bisa menyimpan dan memprosesnya sesuai kehendak di masa depan, seperti klise film jaman baheula yang dapat dicetak lagi dan lagi. Maka dari itu file RAW seringkali disebut Digital Negative.

 

  • Kerugian

  1. Ukuran file membengkak, macam gajah …
    Ya tidak seperti gajah juga sih. Karena file nya tidak mengalami kompresi, maka ukuran    filenya lebih besar. Kapasitas memory card menjadi hal yang perlu diperhitungkan saat memakai format RAW. Maklum, bisa sampai 3-4x ukuran file JPEG.
  2. Harus kerja dua kali, shoot dan edit
    Kurang praktis juga ya bekerja dengan format RAW. Format ini tak akan bisa digunakan sepenuhnya, selayaknya file gambar pada umumnya, kalau belum melalui proses editing.
  3. Butuh software khusus untuk membuka dan memproses
    Seperti sudah disebutkan di awal, software khusus diperlukan untuk dapat membuka dan memproses file berformat RAW. Adobe Photoshop dan Lightroom misalnya.
  4. Memperlambat kinerja kamera
    Bukan maksudnya kamera lambat dalam membidik objek seperti membidik dengan  shutter speed rendah, lebih ke lemot respon kameranya. Kalau hanya memotret single shoot maka hal itu tidak terasa, tetapi ketika memakai burst mode atau continuous shooting, coba rasakan sendiri seberapa lemotnya kamera merespon.
  • RAW dan JPEG, mana yang lebih baik?

    Gambar 7. Hasil JPEG vs. RAW

Ok firstly, this is a very common question. Namun salah jika kita melontarkan pertanyaan ini. Coba bayangkan, seorang awam fotografi ingin mengabadikan momen liburannya di pantai bersama keluarganya. Apakah perlu menggunakan format RAW? Ya tentu tidak, repot dong kalau mau lihat hasilnya lewat komputer harus diutak-atik dulu. Beda halnya ketika seorang fotografer wedding yang ingin memuaskan pelanggannya dengan foto-foto yang fantastis dan menarik. Format RAW dapat memenuhi kebutuhan fotografer tersebut.

RAW atau JPEG adalah pilihan. Semua fotografer punya pilihan itu, jika kamera mereka menyediakan. Memakainya atau tidak akan tergantung banyak hal, seperti pengetahuan, kondisi, situasi, dan banyak hal lainnya. Hal ini tidak menandakan bahwa RAW lebih baik dari JPEG atau sebaliknya. Keberadaan format RAW adalah untuk memberikan opsi atau pilihan.

 

  • Akhir kalimat …

Sudah berada di penghujung artikel panjang nan lebar ini, semoga kalian sudah paham ya dengan format RAW yang telah dijabarkan di atas. Kurang lebihnya penulis mohon maaf. Bila ada pengetahuan lain tentang format RAW, feel free to drop it in the comment section below. Salam hangat!

 


Daftar pustaka :

LB Fotografi. 2017. Mengenal Istilah RAW Dalam Fotografi dan Keuntungan / Kekurangan Memotret Dengan Format RAW. http://fotografi.lovelybogor.com/mengenal-istilah-RAW-dalam-fotografi-dan-keuntungan-kekurangan-memotret-dengan-format-RAW/ (diakses 6-2-2018)

Belajar Fotografi Otodidak. 2011. Memahami File RAW dan JPEG pada Kamera. http://otodidakfotografi.blogspot.co.id/2011/11/memahami-file-RAW-dan-jpeg-pada-foto.html (diakses 6-2-2018)

Saveseva Fotografi. 8 Kelebihan Yang Dimiliki Foto Dengan Format RAW. http://www.saveseva.com/8-kelebihan-foto-format-RAW/ (diakses 6-2-2018)

Classphotography. 2012. Apa itu format RAW. https://classphotography.wordpress.com/2012/11/10/apa-itu-format-RAW/ (diakses 6-2-2018)

Belajar Fotografi. RAW vs JPEG: Format Mana Yang Lebih Baik? http://belfot.com/RAW-vs-jpeg-jpg-format-file-foto-mana-yang-lebih-baik/ (diakses 6-2-2018)

Aditiawan, Rangga dan Yopie Setianugraha. 2014. Photoshop untuk Fotografer Pemula. Jakarta: Prima

 

  • Further information :

febriana.maurizkid@gmail.com

Instagram : @febong_zz

 

Komentar
Share this Post